Pertemuan Kajian Stunting yang di laksanakan tanggal 7 Oktober 2025 berlokasi di lingkungan kerja Puskesmas Mantingan, bersama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi dan Dokter Spesialis Anak yaitu dr. Rizky Sulistyanto, Sp. A dari RSUD Mantingan membahas terkait stunting yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mantingan.

      Stunting merupakan suatu keadaan di mana tinggi badan anak lebih rendah dari rata-rata untuk usianya karena kekurangan nutrisi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada ibu selama kehamilan atau pada anak saat sedang dalam masa pertumbuhan. Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK tidak hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, tetapi juga mengancam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan anak saat ini dan produktivitas anak di masa dewasanya nanti.

      Untuk mengatasi masalah stunting ini, pemerintah telah melakukan berbagai upaya, seperti program Pemberian Makan Tambahan berbasis Pangan Lokal (PMT Lokal). Kegiatan ini ditujukan kepada anak-anak dengan berat badan sangat kurang, berat badan kurang, gizi kurang, berat badan tidak naik, dan ibu hamil KEK, sebagai upaya meningkatkan status gizi dan mencegah terjadinya stunting. Menu PMT diolah dari bahan pangan lokal yang bergizi dan mudah diperoleh masyarakat sekitar.

      Dr. Rizky Sulistyanto, Sp. A menyatakan bahwa pencegahan stunting sendiri dapat dilakukan dengan pemantauan BB dan TB secara kontinyu serta memperhatikan kualitas dan kuantitas dari asupan protein hewani (10-15%) yang harus di komsumsi balita setiap harinya. Selain itu pemantau balita melalui posyandu juga merupakan strategi pencegahan dan tatalaksana stunting. Hal pertama yang di lakukan untuk mengkaji stunting adalah dengan pemantauan BB dan TB melalui Posyandu, lalu balita yang terduga mengalami Stunting akan di rujuk ke Puskesmas dan Upaya terakhirnya Adalah dengan di rujuk ke dr. Spesialis Anak RSUD untuk mengkajian lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *